Kenapa aku jadi sentimen, ketika aku melihat orang lain mendapatkan kesuksesan sementara aku masih saja berada di titik nadir bawah. Dan kenapa pula aku kadang merasa bahagia ketika orang lain disapa kegagalan, sedangkan aku sibuk menikmati lezatnya keberhasilan itu. Bukankah roda kehidupan itu terus berputar, kadang di atas terkadang pula di bawah. Bukankah dingin dan panas, mati dan hidup, serta kesejukan dan kehangatan akan datang silih berganti?
Kenapa aku jadi cepat mengeluh, ketika aku mendapati kesukaran dalam hidupku. Sementara aku tak mampu turut merasakan kesedihan tatkala orang lain mendapati kesukaran yang lebih dari apa yang aku alami. Bukankah Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya? Dan bukankah dibalik satu kesulitan itu terdapat dua kemudahan di baliknya?
Kenapa aku jadi mudah sekali mencari kelemahan dan keburukan kawanku, sedangkan aku enggan untuk berkaca diri. Bercermin atas akhlaqku, atas tingkahku dan sikapku lalu membandingkan dengan mereka yang lebih utama dariku. Bukankah sebaik2 manusia itu yang selalu bermuhasabah diri ?
Kenapa aku jadi berstandar ganda.. Melarang si A begini si B begitu, memvonis si C ahlul maksiat, si D tukang ngelanggar aturan Allah,,, sedangkan diri ini terlalu toleran terhadap kesalahan-kesalahan diri yang sebenarnya mampu untuk dihindari dan sudah paham betul kalau yang dilakukan itu adalah sebuah pelanggaran dan haram hukumnya.
Kenapa aku jadi cepat mengeluh, ketika aku mendapati kesukaran dalam hidupku. Sementara aku tak mampu turut merasakan kesedihan tatkala orang lain mendapati kesukaran yang lebih dari apa yang aku alami. Bukankah Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya? Dan bukankah dibalik satu kesulitan itu terdapat dua kemudahan di baliknya?
Kenapa aku jadi mudah sekali mencari kelemahan dan keburukan kawanku, sedangkan aku enggan untuk berkaca diri. Bercermin atas akhlaqku, atas tingkahku dan sikapku lalu membandingkan dengan mereka yang lebih utama dariku. Bukankah sebaik2 manusia itu yang selalu bermuhasabah diri ?
Kenapa aku jadi berstandar ganda.. Melarang si A begini si B begitu, memvonis si C ahlul maksiat, si D tukang ngelanggar aturan Allah,,, sedangkan diri ini terlalu toleran terhadap kesalahan-kesalahan diri yang sebenarnya mampu untuk dihindari dan sudah paham betul kalau yang dilakukan itu adalah sebuah pelanggaran dan haram hukumnya.