Senin, 28 Februari 2011

Kenapa Aku Jadi Begini ?

Kenapa aku jadi sentimen, ketika aku melihat orang lain mendapatkan kesuksesan sementara aku masih saja berada di titik nadir bawah. Dan kenapa pula aku kadang merasa bahagia ketika orang lain disapa kegagalan, sedangkan aku sibuk menikmati lezatnya keberhasilan itu. Bukankah roda kehidupan itu terus berputar, kadang di atas terkadang pula di bawah. Bukankah dingin dan panas, mati dan hidup, serta kesejukan dan kehangatan akan datang silih berganti?

Kenapa aku jadi cepat mengeluh, ketika aku mendapati kesukaran dalam hidupku. Sementara aku tak mampu turut merasakan kesedihan tatkala orang lain mendapati kesukaran yang lebih dari apa yang aku alami. Bukankah Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya? Dan bukankah dibalik satu kesulitan itu terdapat dua kemudahan di baliknya?


Kenapa aku jadi mudah sekali mencari kelemahan dan keburukan kawanku, sedangkan aku enggan untuk berkaca diri. Bercermin atas akhlaqku, atas tingkahku dan sikapku lalu membandingkan dengan mereka yang lebih utama dariku. Bukankah sebaik2 manusia itu yang selalu bermuhasabah diri ?


Kenapa aku jadi berstandar ganda.. Melarang si A begini si B begitu, memvonis si C ahlul maksiat, si D tukang ngelanggar aturan Allah,,, sedangkan diri ini terlalu toleran terhadap kesalahan-kesalahan diri yang sebenarnya mampu untuk dihindari dan sudah paham betul kalau yang dilakukan itu adalah sebuah pelanggaran dan haram hukumnya.

Interesting writing to read as advice and reflection of life

Speechless ketika saya menelaah puisi beliau.. Menurut saya ini salah satu puisi terindah. Menjadi sangat spesial ketika pengarangnya adalah mantan orang nomor 1 di negara Indonesia.
One lesson for us ... 
============
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku …
.

BJ.HABIBIE


taken from : http://nike.rasyid.net